Elizabeth Piscilia Runtu Sebut Fondasi menuju Indonesia Emas 2045, Pembangunan Skill Anak Muda Harus Dimulai dari Sekarang

Hiburan3 Dilihat

Manado,KOMENTAR.CO.ID- Elizabeth Piscilia Runtu S.H M.A.P yang menilai masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dengan keterampilan tenaga kerja yang tersedia di Indonesia.

Menurutnya, Cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 dinilai harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia, khususnya anak-anak muda lulusan SMA agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Dalam pekerjaannya sebagai pengacara yang mendampingi lebih dari 200 perusahaan asing di Indonesia, Elizabeth mengaku kerap melihat persoalan tersebut secara langsung.

“Persoalannya bukan karena Indonesia kekurangan tenaga kerja. Masalah utamanya adalah banyak anak muda tidak memperoleh informasi yang cukup mengenai industri apa yang sedang berkembang dan keterampilan apa yang sedang dibutuhkan,” ujarnya.

Menurut Elizabeth, pemerintah perlu mengambil peran lebih besar dalam menjembatani kebutuhan dunia industri dengan kemampuan tenaga kerja Indonesia.

Ia mendorong Kementerian Ketenagakerjaan untuk terhubung secara aktif dengan BKPM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, BPJS Ketenagakerjaan, serta dunia usaha.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membaca sektor-sektor industri yang sedang tumbuh sekaligus memetakan kebutuhan tenaga kerjanya.

“Data investasi dapat menunjukkan industri yang berkembang. Data BPJS Ketenagakerjaan dapat membantu melihat sektor yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja,” kata Elizabeth yang juga merupakan Sekretaris 234 SC Manado.

Namun, lanjut dia, data tersebut perlu dilengkapi dengan informasi langsung dari perusahaan mengenai keterampilan yang paling sulit mereka dapatkan.

Karena itu, kunjungan pemerintah ke perusahaan menurut Elizabeth tidak seharusnya hanya berfokus pada persoalan kepatuhan dan kesejahteraan pekerja.

Pemerintah juga perlu menggali kebutuhan perusahaan dengan pertanyaan yang lebih mendasar.

“Apakah SDM Indonesia yang tersedia saat ini sudah memenuhi kebutuhan perusahaan? Keterampilan apa yang masih sulit ditemukan?” jelasnya.

Jawaban dari pertanyaan tersebut, menurut Elizabeth, dapat menjadi dasar penyusunan program pelatihan yang lebih tepat sasaran.

Dorong Peta Nasional Kebutuhan Keterampilan

Elizabeth kemudian mengusulkan agar Indonesia memiliki Peta Nasional Kebutuhan Keterampilan yang menghubungkan arah investasi, pertumbuhan industri, kebutuhan tenaga kerja, serta program pelatihan.

Menurutnya, mekanisme tersebut dapat dibuat dengan alur sederhana.

Industri berkembang → kebutuhan tenaga kerja dipetakan → skill yang dibutuhkan diketahui → anak muda dilatih → industri menyerap tenaga kerja.

“Namun kita juga tidak boleh hanya melihat kebutuhan hari ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan perkembangan globalisasi, otomatisasi, mesin modern, hingga kecerdasan buatan atau AI bergerak sangat cepat.

Kondisi tersebut membuat banyak jenis pekerjaan akan mengalami perubahan, sementara kebutuhan terhadap keterampilan baru akan terus bermunculan.

Karena itu, anak-anak muda Indonesia perlu diperkenalkan dengan teknologi modern, mesin industri, sistem otomatisasi, AI, serta berbagai keterampilan teknis yang relevan dengan perkembangan dunia kerja.

Bisa Libatkan Tenaga Ahli dari Luar Negeri

Elizabeth juga membuka opsi kerja sama dengan negara-negara yang memiliki keahlian lebih maju di bidang tertentu apabila kemampuan pengajar di dalam negeri belum mencukupi.

Menurutnya, tenaga ahli, instruktur, atau guru dari luar negeri dapat diundang untuk memberikan pelatihan jangka pendek sekaligus mentransfer pengetahuan kepada tenaga pengajar maupun peserta pelatihan di Indonesia.

Agar program tersebut berjalan efektif, dukungan dari kementerian yang membidangi keimigrasian juga dinilai penting.

Pemerintah, kata Elizabeth, dapat menyediakan mekanisme visa kunjungan khusus bagi tenaga ahli atau instruktur yang diundang untuk kegiatan pelatihan dan transfer pengetahuan.

Prosesnya diharapkan cepat, sederhana, dan memiliki mekanisme yang jelas.

“Tujuannya bukan untuk mempermudah masuknya tenaga kerja asing secara umum, melainkan untuk mendukung masuknya keahlian yang memang dibutuhkan Indonesia dalam waktu tertentu,” tegasnya.

Dengan mekanisme tersebut, seorang ahli di bidang mesin, otomasi, AI, manufaktur, atau teknologi tertentu dapat datang selama beberapa minggu atau beberapa bulan untuk melatih tenaga Indonesia.

Setelah itu, pengetahuan yang ditransfer dapat terus dikembangkan oleh tenaga kerja dan pengajar di dalam negeri.

“Prinsipnya harus jelas: yang kita impor bukan ketergantungan, tetapi pengetahuan,” katanya.

Lulusan SMA Jangan Hanya Dipandang Tenaga Kerja Murah

Elizabeth menilai lulusan SMA juga tidak boleh hanya dipandang sebagai tenaga kerja murah.

Dengan pelatihan yang tepat, mereka dapat menjadi tenaga teknis dan tenaga terampil dengan produktivitas sekaligus penghasilan yang lebih tinggi.

Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan investasi, pembangunan pabrik, maupun masuknya teknologi baru.

Hal terpenting adalah memastikan ketika teknologi, industri, dan kesempatan kerja datang, anak-anak Indonesia sudah memiliki keterampilan untuk menguasainya.

“Investasi dapat masuk, mesin dapat dibeli, dan teknologi dapat diimpor. Tetapi kemampuan manusia untuk menguasai semua itu harus dibangun,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan keterampilan anak muda harus dimulai sejak sekarang sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *