Ketika Nama Ibu Menggema di Sidang Pasca Sarjana, Air Mata Valentino Tercurah Dibalik Senyum Haru Rizya Davega

JAKARTA KOMENTAR-Seakan waktu berhenti sejenak, ruang sidang pasca sarjana IPDN Cilandak dipenuhi keheningan yang sarat makna. Para hadirin, yang semula larut dalam suasana akademik, tiba-tiba tersentak oleh getaran emosional ketika Dr. Joune Ganda, SE. MAP. MM. M.Si, berdiri menyampaikan sambutan.

Dengan suara terbata-bata, mata yang memerah, dan jeda panjang yang penuh beban perasaan, ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan ikut menahan napas.

“Ijinkan saya… menyampaikan rasa hormat… yang tinggi… kepada orang tua saya,” ungkap Joune dengan ekspresi layaknya seseorang yang sedang menangis.

Nama Ibunda yang disebutnya seolah menghadirkan sosok yang tak lagi ada secara fisik, namun tetap hidup dalam setiap detak hati sang putra. Ekspresi Joune saat itu tak mampu digambarkan dengan kata-kata, sebuah percampuran antara kehilangan, kerinduan, dan kebanggaan yang hanya bisa dirasakan oleh seorang anak yang meraih puncak kesuksesan tanpa kehadiran sosok yang paling dicintai.

Di barisan kursi belakang, Valentino Rafael Ganda, putra semata wayang, tampak mengusap matanya. Duduk di samping sang Mama, Rizya Danda Davega, ia seakan merasakan getaran yang sama dengan sang Papa. Tatapan kosong yang sesekali berubah menjadi senyum tipis, memperlihatkan betapa dalamnya ikatan emosional yang sedang berlangsung di ruang itu.

Kamera merekam momen tersebut, menghadirkan potret keluarga yang sedang berbagi rasa kehilangan sekaligus kebanggaan. Sebuah pemandangan yang membuat siapa pun yang hadir merasa ikut menjadi bagian dari cerita itu.

Mereka yang Larut dalam Haru
tak hanya keluarga, sejumlah kerabat dan sahabat yang hadir pun tampak larut dalam suasana. Ketua Umum APKASI, Bursah Zarnubi, duduk dengan wajah penuh keharuan, menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Joune. Ekspresi para kerabat mencerminkan perasaan yang bercampur kesedihan karena mengenang sosok Ibunda yang telah tiada, namun juga sukacita karena menyaksikan pencapaian luar biasa yang diraih seorang sahabat bernama Joune Ganda.

Ruang sidang itu bukan lagi sekadar tempat ujian akademik, tetapi menjadi ruang perjumpaan emosional antara masa lalu yang penuh kasih dan masa kini yang penuh pencapaian.

Sorotan lain tertuju kepada Ny. Endang Nugrahani yang tidak lain adalah istri Gubernur DKI Pramono Anung, ia tak kuasa menahan air mata. Tangisnya bukan sekadar luapan emosi, melainkan cerminan kasih seorang ibu yang memahami betapa dalamnya makna penghormatan kepada orang tua. Kehadirannya seketika menjadi simbol kelembutan dan ketulusan, membuat ruangan itu terasa lebih dekat dan lebih manusiawi.

Dibalik gemerlap jabatan dan protokol, momen tersebut mengingatkan semua yang hadir bahwa penghormatan kepada orang tua adalah nilai yang melampaui panggung politik maupun akademik. Ny. Endang Nugrahani, dengan air mata yang jernih duduk disamping Ny. Rizya Ganda Davega, menghadirkan pesan yang tak terucap, bahwa cinta dan doa seorang ibu adalah sumber kekuatan sejati.

Ketika sambutan berakhir, suasana tetap terasa berat namun hangat. Para hadirin seolah enggan melepaskan momen itu, karena mereka tahu telah menjadi saksi dari sebuah perjalanan hidup yang sarat makna.

Sidang pasca sarjana IPDN hari itu bukan hanya tentang gelar akademik, melainkan tentang cinta seorang anak kepada Ibunda, tentang warisan kasih yang tak lekang oleh waktu, dan tentang bagaimana kesuksesan sejati selalu berakar pada doa dan pengorbanan seorang Ibu, Istri dan anak.

Joppy Senduk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *