MINAHASA UTARA KOMENTAT-Berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat, sebuah pendekatan baru mulai diterapkan di wilayah kerja Puskesmas Kolongan.
Belum lama ini, sebanyak 90 peserta Prolanis dari Desa Kolongan dan Kalawat mendapatkan bekal penting untuk mengelola kondisi mereka secara lebih holistik.
Pembekalan meliputi kegiatan edukatif dan pelatihan bertajuk “Mind-Body Therapies, diantaranya pendalaman megenao strategi peningkatan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup penderita penyakit kronis serta melalui pemberdayaan kelompok Peer Group.
Kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap dampak psikologis penyakit kronis seperti Diabetes Melitus dan Hipertensi. Penelitian menunjukkan bahwa penderita penyakit kronis memiliki risiko dua kali lipat mengalami gangguan kecemasan dan tidur dibandingkan pasien umum.
“Kondisi ini memengaruhi motivasi untuk sembuh dan menurunkan kualitas hidup mereka,”ungkap Ketua Pelaksana dari Universitas Sam Ratulangi Adriani Natalia M.S.Kep. Ns. M.Kep.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat (PKM) menghadirkan pendekatan non-farmakologis berbasis terapi pikiran dan tubuh.
Teknik seperti meditasi, pernapasan sadar, dan relaksasi progresif diajarkan kepada peserta sebagai cara mengelola stres dan meningkatkan ketenangan batin. Kegiatan ini berlangsung pada 22 Agustus 2025 di Puskesmas Kolongan dan 12 September 2025 di Balai Desa Kalawat.
Dua intervensi utama menjadi fokus kegiatan:
- Pelatihan Mind-Body Therapy Peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang gangguan psikologis yang menyertai penyakit kronis, serta praktik langsung teknik terapi yang disampaikan oleh narasumber ahli. Materi juga tersedia secara daring melalui platform pembelajaran berbasis teknologi.
- Pembentukan Peer Group Kelompok sebaya dibentuk berdasarkan jenis penyakit dengan anggota 8–10 orang. Kelompok ini menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, saling mendukung, dan memperkuat kepatuhan terhadap terapi.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan dukungan penuh dari Kepala UPTD Puskesmas Kolongan, dr. Cicilia Paat, M.Kes. Partisipasi aktif peserta menjadi indikator keberhasilan awal yang menjanjikan.
“Kami berharap peserta dapat menerapkan teknik ini secara mandiri dan menjadikan Peer Group sebagai sumber kekuatan psikososial yang berkelanjutan,” ujar Adriani.
Lebih dari sekadar pelatihan, program ini dirancang untuk menjadi bagian dari rutinitas mingguan Prolanis dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) bidang kesehatan dan pendidikan. Tim pelaksana PKM yang terdiri dari lintas disiplin, termasuk fisioterapi dan psikologi, menyampaikan apresiasi kepada DRTPM Bima Kemendikbudristek atas dukungan pendanaan.
Dengan semangat kebersamaan antara akademisi dan masyarakat, program ini menjadi bukti bahwa pendekatan sederhana namun bermakna dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan penderita penyakit kronis. Harapannya, inisiatif ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia.
Jose







