Dr. Drs. Elisa Filsafat Arbiter Regar, M.Hum
MANADO KOMENTAR-Dilanskap tokoh Sulawesi Utara, nama Dr. Drs. Elisa Filsafat Arbiter Regar, M.Hum. atau yang akrab disapa Elly, memiliki tempat istimewa, bukan hanya karena gelar akademik S3 Ilmu Bahasa dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang diraihnya pada 2018, melainkan karena akar kepemudaan, kedisiplinan organisasi, dan asal-usulnya sebagai salah satu putra terbaik Desa Suluun, Kabupaten Minahasa, telah membentuknya menjadi figur yang disegani lintas generasi dan wilayah.
Bagi Elly, masa muda di tanah kelahirannya dan bangku kuliah bukan sekadar fase transisi, melainkan laboratorium kepemimpinan pertama.
Fondasi karakternya ditempa sejak dini saat ia bergabung sebagai anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) Batalyon Unsrat Angkatan ke-4 pada tahun 1976.
Pendidikan dasar kemiliteran dan kedisiplinan di Menwa ini menanamkan nilai ketangguhan mental, loyalitas dan jiwa korsa yang menjadi bekal utamanya dalam berorganisasi.
Perjalanan itu berlanjut ketika ia lulus kuliah tahun 1988 dan langsung terpilih sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sulawesi Utara periode 1988-1991.
Jabatan strategis ini tidak datang tiba-tiba, sebelumnya, ia telah mengasah kemampuan organisasi sebagai Wakil Ketua KNPI Minahasa pada tahun yang sama.
Pengalaman memimpin ribuan pemuda di era tersebut, yang berakar dari nilai-nilai kebersamaan warga Suluun dan disiplin Menwa, menempa insting politiknya, kemampuan diplomasi, dan kepekaan sosial yang kini menjadi modal utamanya dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan, termasuk para birokrat.
Lulusan Fakultas Sastra Inggris Unsrat ini membuktikan bahwa aktivis pemuda bisa bersinergi dengan dunia akademik dan politik tanpa kehilangan jati diri. Sejak 1990, ia mengabdikan diri sebagai dosen, sembari membangun keluarga bersama istri tercinta, Senny Sualang. Dari pernikahan yang dikaruniai dua putra, Patria dan Satria yang kini mandiri membangun usaha sendiri.
Belajar tentang makna dan tanggung jawab yang sesungguhnya adalah sebuah nilai yang ia warisi dari orang tua dan lingkungan di Desa Suluun.
Pengalaman kepemimpinannya tidak berhenti di kampus atau organisasi pemuda. Pada periode 1999-2001, Elly dipercaya melayani masyarakat sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Pengalaman legislatif ini memberinya pemahaman mendalam tentang tata kelola pemerintahan, fungsi pengawasan, dan aspirasi rakyat dari dalam ruang parlemen.
Kombinasi antara disiplin Menwa, dinamika kepemudaan KNPI, dan perspektif legislasi di DPRD menjadikan Elly sosok yang memiliki wawasan holistik dalam membaca isu-isu pembangunan daerah.
Meski pensiun sebagai PNS pada September 2018, energi Elly tidak pernah padam. Ia justru semakin aktif dalam kehidupan rohani dan kemasyarakatan.
Sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, nilai-nilai kebersamaan dan kerendahan hati khas masyarakat Suluun selalu ia junjung tinggi. Di Gereja GMIM, ia pernah melayani sebagai Ketua Pembinaan Warga Jemaat di GMIM Bethesda Ranotana selama dua periode, sebelum dipercaya sebagai Sekretaris Jemaat di GMIM Bukit Moria Malalayang. Pengabdiannya bahkan sampai ke tingkat sinode sebagai Anggota Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM periode 2006-2010.
Di usia senjanya, Elly menikmati waktu berkualitas bersama keluarga di Jalan Sea Lingkungan 4, Malalayang 1, Manado. Namun, ikatan persahabatan masa lalu tetap terjaga erat.
Sesekali, ia menghabiskan waktu di Rumah Kopi K8 Sario, bertemu sahabat-sahabat seperjuangan seperti Wempie Frederik (Mantan Walikota Manado) dan Max Besauw mantan Sekot Manado.
Disanalah, obrolan tentang dinamika daerah mengalir santai namun berbobot, sering kali diselipi kenangan akan kampung halaman dan masa-masa perjuangan di KNPI maupun DPRD yang membentuk karakter mereka.
Terkait kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus, Elly memberikan pandangan khas seorang senior yang peduli dan berpengalaman. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap gubernur, namun juga mengingatkan pentingnya masukan konstruktif terkait birokrasi agar roda pemerintahan dapat berjalan lebih optimal.
“Kita perlu memberikan masukan terkait birokrasi, agar beliau dapat memimpin dengan baik,” ujarnya, mencerminkan sikap kritis yang membangun, warisan dari masa-masa aktif di KNPI, disiplin Menwa, dan pengalaman legislasinya di DPRD Sulut.
Kepada pemuda masa kini, terutama generasi muda Minahasa dan Suluun, Elly menitipkan pesan yang relevan dengan zamannya. Ia mengajak generasi muda untuk cermat mencermati kondisi politik dan dinamika era digital. Namun, di atas segala ambisi, ia menekankan fondasi yang tak boleh goyah, motivasi hidup yang jelas, kendali diri, kedekatan dengan orang tua, serta kehidupan rohani yang sehat.
“Motivasi hidup harus jelas dan terkontrol, terutama peran orang tua. Dan jangan lupa lebih dekat dengan kehidupan rohani,” pesannya singkat namun mendalam, sebuah nasihat yang ia praktikkan sendiri sepanjang hayat.
Dari barisan Menwa tahun 1976, podium KNPI di tahun 80-an, kursi legislator di akhir 90-an, hingga mimbar gereja dan ruang kelas hari ini, Dr. Elly Regar telah membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak mengenal batas waktu. Ia adalah teladan bahwa menjadi tokoh yang disegani bukan soal seberapa tinggi jabatan yang diraih, tetapi seberapa dalam akar pelayanan, integritas, disiplin, dan cinta tanah kelahiran yang ditanamkan sejak kecil di Desa Suluun.
Joppy Senduk







