KOMENTAR SPORT-Ketidakpuasan mulai menyeruak dari garasi Ducati. Francesco “Pecco” Bagnaia, sang juara dunia dua kali, merasa diperlakukan tidak adil oleh tim yang pernah ia bawa ke puncak kejayaan sejak tahun 2025.
Kedatangan Marc Marquez memang membawa sorotan baru, namun sikap Ducati yang terlalu fokus pada Marquez dianggap sebagai awal dari kegagalan besar.
Dilansir dari berbagai media, Bagnaia merasa tertekan karena posisinya seakan diremehkan, meski ia telah mempersembahkan dua gelar dunia untuk Ducati.
Kehadiran Mark Marquez yang sebelumnya mulai terseok seok di team Honda, datang dengan janji besar dan langsung mendapat perhatian penuh dari manajemen, sementara Bagnaia justru kehilangan dukungan moral yang ia butuhkan.
Tekanan psikologis ini membuat Bagnaia kesulitan menjaga fokus di lintasan, sebuah kesalahan yang menurut pengamat seharusnya tidak terjadi jika Ducati memberi perlakuan setara.
Davide Tardozzi, manajer tim, bahkan sempat melontarkan kritik keras agar Bagnaia tidak “manja”, sebuah pernyataan yang semakin memperuncing ketegangan internal, karena kalimat seperti itu tidak pernah keluar dari mulut Tardozzi sebelum kehadiran MM di pedock Ducati.
Sama halnya dengan Gigi Dall’ Igna
General Manager Ducati Corse “tak fokus” ke Pecco Bagnaia lebih tepat digambarkan sebagai situasi di mana Ducati kesulitan mengatasi masalah teknis Bagnaia.
Padahal sebelumnya Pecco dianggap sebagai Dewa penolong yang mempersembahkan dua gelar juara duni setelah sebelumnya puasa gelar bertahun tahun sejak ditinggal Casey Stoner yang membawa Ducati juara dunia pertama(2007).
Para pengamat MotoGP menilai kebijakan Ducati bisa menjadi bumerang. Mengabaikan Bagnaia yang sudah terbukti membawa kejayaan, demi mengandalkan Marquez yang baru datang, ibarat menumpahkan air di tempayan demi mengharap hujan dari langit.
Kini, Ducati berada di persimpangan jalan. Jika terus mengabaikan Bagnaia, tim ini perlahan akan kehilangan simpati publik dan bahkan bisa dicap sebagai tim yang menyia-nyiakan pahlawan mereka sendiri yang sebelumnya jatuh bangun dilintasan demi mempersembahkan gelar juara dunia untuk Ducati.
Masa depan Ducati bukan hanya ditentukan oleh kecepatan di lintasan, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam menghargai pengorbanan pembalap yang telah membawa mereka ke puncak.
Yang paling parah adalah, kabar kepindahan Pecco ke Aprilia, semakin membuat Ducati ketakutan. Race pembuka di Thailand adalah bukati bahwa Pecco tidak bersemangat, MM tidak mampu finis dan hal ini dinilai awal kehancuran Ducati.
Redaksi







