MANADO KOMENTAR-Ditengah hiruk-pikuk pelantikan 128 Hukum Tua di Kabupaten Minahasa oleh Bupati Robby Dondokambey, ada satu suara yang terdengar berbeda dan bukan sekadar ucapan selamat formal, melainkan sebuah pesan hati ke hati dari Anggota DPRD Sulawesi Utara, Inggrid Sondakh.
Dengan nada bicara yang tenang dan mata yang berkaca-kaca, Inggrid menyampaikan amanat yang seolah membawa kembali roh kepemimpinan ayahnya, Almarhum Gubernur Sulut A.J. Sondakh, sederhana, dekat dengan rakyat, dan selalu ingat pada akar rumput.
Bagi Inggrid, jabatan Hukum Tua bukan tentang kemewahan kursi atau gelar, melainkan tentang keringat yang tumpah di sawah dan air mata yang ditampung saat warga kesulitan.
“Selamat kepada semua yang sudah dilantik sebagai Hukum Tua yang baru. Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang teori pemerintahan. Saya hanya ingin mengingatkan satu hal, jangan pernah lupa dari mana kita berasal,” ujar Inggrid dengan suara lirih namun tegas.
Ia lalu sedikit berceritera mengenai sosok Almarhum ayahnya AJ Sondak. “Ayah saya dulu sering berpesan, ‘Jabatan itu titipan, tapi pelayanan itu kewajiban seumur hidup. Ketika Anda pulang ke desa nanti, lihatlah wajah-wajah ibu-ibu yang menunggu bantuan, anak-anak yang butuh sekolah layak, dan bapak-bapak yang berharap hasil panennya dihargai adil. Merekalah bos sebenarnya. Kita ini hanya pelayan mereka,”ungkap Inggrid.
Momen tersebut terasa sangat personal. Inggrid mengajak para Hukum Tua untuk memimpin dengan “hati yang dingin dan tangan yang hangat” tenang dalam mengambil keputusan, namun hangat dalam menyapa warganya. Ia menekankan bahwa kejujuran adalah mata uang paling berharga di desa.
“Di kota, orang mungkin bisa ditutupi oleh pencitraan. Tapi di desa? Tidak ada yang bisa ditutupi. Jika hati Anda bersih, maka rezeki dan kepercayaan masyarakat akan mengalir sendiri. Jadilah pemimpin yang ketika malam tiba, bisa tidur nyenyak karena tahu hari ini ia telah berbuat benar untuk tetangganya sendiri.”
Pesan penutupnya menjadi renungan mendalam bagi seluruh yang hadir:
“Saya bangga melihat semangat muda dan pengalaman tua yang bersatu di sini. Bawalah Minahasa maju, bukan dengan janji-janji manis di atas panggung, tapi dengan langkah kaki yang nyata menelusuri lorong-lorong desa. Selamat bertugas. Semoga Tuhan senantiasa menuntun langkah kalian, seperti Dia menuntun ayah saya dahulu. Mari kita jaga Minahasa, rumah kita bersama, dengan cinta.”
Ucapan selamat dari Inggrid Sondakh ini bukan sekadar protokol politik, melainkan estafet nilai-nilai luhur kepemimpinan yang mengutamakan kemanusiaan. Sebuah pengingat lembut bagi 128 Hukum Tua baru: bahwa kekuasaan tertinggi bukanlah apa yang tertulis di SK Pelantikan, melainkan apa yang tersimpan di hati rakyat yang dipimpinnya.
JS.







