MANADO KOMENTAR-Langit Manado seolah ikut berduka saat kabar kepergian Olga Rumimpunu, menyelimuti Kompleks Perumahan Lembah Kairagi Mas, Kecamatan Mapanget.
Di usia 80 tahun, sosok ibu yang dikenal penuh kasih itu menghembuskan napas terakhir di kediaman anak sulungnya, Anita Manoppo, Jumat (03/09/2025) pukul 15.00 WITA, setelah sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Centra Medika akibat komplikasi penyakit.
Almarhumah meninggalkan tiga putri, enam cucu, dan dua cicit. Jejak kehidupan bersama anak-anak termasuk menantu, yang merawatnya dengan cinta dan ketulusan. Namun di balik angka dan nama, ada luka yang tak terucap dari mereka yang paling dekat dengan sang Mama.

Bobby Satrio, menantu sekaligus suami dari Anita Manoppo, tak mampu menyembunyikan penyesalan yang begitu dalam. Ditengah para pelayat yang umumnya Anggota ORARI Lokal Manado yang datang silih berganti, Bobby berdiri dengan mata yang basah, mengenang sosok mertua yang telah menjadi ibu kedua baginya.
“Saya merasa belum cukup membalas kebaikan Mama. Beliau selalu menyayangi saya seperti anak sendiri. Bahkan di saat saya merasa gagal, Mama tetap memeluk saya dengan doa dan harapan,” ucap Bobby dengan suara bergetar.
Menurut tetangga dekat, hubungan Bobby dan Almarhumah sangatlah erat. Tak jarang mereka melihat keduanya duduk bersama di teras rumah, berbagi cerita ringan yang kini tinggal kenangan. Bobby mengaku, kepergian Olga Rumimpunu meninggalkan ruang kosong yang tak tergantikan dalam hidupnya.
Sementara itu, Anita Manoppo, anak sulung yang selama ini menjadi tempat bersandar sang Mama, larut dalam kesedihan yang mendalam. Sejak hari pertama kepergian ibunda tercinta, Anita tak beranjak dari sisi peti jenazah. Ia terus menangis, memeluk kenangan yang tak lagi bisa disentuh.
“Mama adalah cahaya hidup saya. Saya tumbuh dalam pelukannya, dalam doanya, dalam setiap nasihat yang tak pernah menghakimi. Saya belum siap kehilangan ini,” ujar Anita sambil terisak.
Tangis Anita tak hanya menggambarkan kehilangan seorang ibu, tetapi juga kehilangan sahabat, guru, dan pelindung yang selama ini menjadi penopang hidupnya. Ia mengenang masa-masa terakhir sang Mama, saat tubuhnya mulai lemah namun senyumnya tetap hangat.
“Di hari-hari terakhirnya, Mama masih sempat menggenggam tangan saya dan berkata, ‘Jaga adik-adikmu, jangan biarkan mereka merasa sendiri.’ Itu pesan terakhir yang akan saya bawa seumur hidup,” tambah Anita dengan suara lirih.
Kepergian Olga Rumimpunu bukan hanya duka bagi keluarga Satrio-Manoppo, tetapi juga bagi lingkungan yang mengenalnya sebagai sosok yang ramah, bijak, dan penuh kasih. Ia adalah ibu yang tak hanya melahirkan anak-anaknya, tetapi juga membesarkan nilai-nilai kehidupan yang kini diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam keheningan rumah duka, doa-doa terus dipanjatkan. Air mata mengalir, bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena cinta yang begitu besar kepada sosok yang telah pergi. Dan di antara pelukan duka, Bobby dan Anita berdiri sebagai saksi bahwa kasih seorang ibu tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam kenangan, dalam doa, dan dalam setiap langkah yang mereka ambil ke depan.
Ketua ORARI Lokal Manado Miki Tuera yang datang melayat bersama Ketua Bidang Organisasi Joppy Albert dan seluruh anggota ORARI lokal Manado, menyampaikan turut sepenanggungan dengan keluarga.
Ketua dan pengurus ORARI Lokal Manado yang melayat ke rumah duka tidak hanya hadir. Tapi adalah ungkapan belasungkawa yang mendalam.
Diketahui Bobby Satrio adalah Kepala Loka Monitor Balai SFR Kendari yang adalah mitra dari ORARI, sementara Anita Manoppo adalah anggota ORARI Lokal Minahasa
Joppy Senduk.







