Tanggapan dan Harapan Diaken, Lily Hiedayat, atas Kepemimpinan Ketua BPMS Baru, Tata Gereja Landasan Utama Pelayanan

MANADO KOMENTAR-Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke-38 di Bukit Inspirasi Kota Tomohon menjadi momentum bersejarah bagi Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).

Pdt. Dr. Adolf Katuuk Wenas resmi terpilih sebagai Ketua Badan Pekerja Sinode GMIM (BPMS) periode 2022–2026, membawa harapan baru bagi arah pelayanan gereja.

Harapan itu disuarakan lantang oleh Diaken Lily Hiedayat, seorang pelayan khusus yang dikenal vokal memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan jemaat. Ia menekankan perlunya reformasi pelayanan hingga ke akar jemaat, mengingat banyak jemaat yang sebelumnya memilih hengkang akibat persoalan internal yang tak pernah sampai ke meja Sinode.

“Jika ada jemaat berseteru dengan pelayan khusus, baik diaken, penatua, maupun pendeta, harus segera dilaporkan ke Sinode agar diselesaikan secara kekeluargaan. Jangan biarkan masalah membusuk di jemaat. Yang terjadi adalah persoalan di Jemaat tidak pernah sampai ke meja sinode, dan jika pun sampai terkesan diabaikan oleh BPMS. Hal ini harus menjadi perhatian serius BPMS. Jadi jemaat harus benar-benar mendapat pelayanan dengan berlandaskan kasih dari BPMS,” tegas Diaken Lily.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tata gereja harus menjadi payung perlindungan bagi jemaat maupun pelsus. Tidak boleh ada perlakuan istimewa hanya karena kedekatan dengan BPMS. “Aturan gereja harus ditegakkan, agar jemaat dan pelsus merasa aman dalam pelayanan,” ujarnya.

Salah satu Pelayan Khusus di GMIM Victory Kairagi Weru itu menegaskan, bahwa Tata Gereja yang telah ditetapkan sejak awal adalah fondasi yang tidak dapat ditawar dalam pelayanan GMIM. Tata Gereja bukan sekadar aturan, melainkan pedoman iman yang menjaga arah dan kesatuan pelayanan.

Apabila Tata Gereja sungguh dijadikan landasan, maka GMIM akan semakin kokoh dalam melangkah menuju pembaharuan. Jemaat akan merasakan buah dari pelayanan yang tertib, teratur, dan berlandaskan kasih, sehingga dengan penuh sukacita dapat berseru: “Aku Cinta GMIM.”

Ia mengingatkan, sikap para pelayan khusus haruslah ditandai dengan kerendahan hati. Bahwa kerendahan hati bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang mencerminkan seorang hamba Tuhan sejati.

Termasuk Pelsus yang menduduki jabatan sebagai Badan Pekerja di setiap jemaat. Tidak boleh jabatan seolah dijadikan sebagai alat kekuasaan. Badan Pekerja harus membuka diri untuk dikoreksi, sekaligus menempatkan diri sebagai pengayom, pelayan yang bertugas menyatukan jemaat serta pengelolah program, karena tidak sedikit jemaat bahkan pelsus kolom dan BIPRA yang berbeda pendapat dan saling diam berbulan-bulan, karena sikap otoriter dari oknum-oknum Badan Pekerja.

Hal inilah yang menjadi penting untuk dirobah, sehingga jemaat benar-benar merasa dilayani dengan penuh kasih.

“Badan Pekerja harus mampu menempatkan diri bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pelayan Kristus yang setia, yang hadir untuk membangun jemaat, bukan untuk meninggikan diri,”ungkapnya.

Disisi lain, Diaken Lily menyoroti realitas yang kerap terabaikan, para pelayan khusus seringkali berkorban tanpa dukungan memadai. Mereka hadir dalam ibadah sedikitnya tiga kali seminggu, terlibat dalam pengelolaan dana gereja, dan tetap dituntut memberi pelayanan terbaik meski dalam keterbatasan.

“Pelsus tidak boleh hanya terus memberi di balik kekurangan mereka. Sinode harus memberi perhatian berupa insentif, karena pelayanan bukan tanpa biaya,” ungkapnya.

Dengan terpilihnya Pdt. Adolf Wenas, Lily berharap kepemimpinan baru Sinode GMIM mampu membuka mata terhadap kesulitan yang dialami pelsus di setiap jemaat. Dukungan nyata dari Sinode diyakini akan memperkuat pelayanan, menutup celah konflik, dan mengembalikan kepercayaan jemaat yang sempat hilang.

Pesus jemaat di bantu oleh BPMS hendaknya bekerja maksimal menempetkan diri sebagai Hamba yang melayani sebagaimana yang tersirat dlm FImirman. “Sebab Aku datang untuk Melayani bukan dilayani”. Begini sikap Pelsus yang sesungguhnya.

“Oleh karena itu, selaku pelayan khusus, saya mendukung penuh kepemimpinan Pdt. Adolf Wenas. Semoga beliau membawa perubahan yang menyeluruh bagi pelayanan GMIM,” pungkas Lily.

Narasi ini menegaskan bahwa terpilihnya Ketua Sinode bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan momentum untuk membangun kembali kepercayaan jemaat dan memperkuat fondasi pelayanan. Suara pelsus menjadi alarm moral pelayanan gereja harus berpijak pada keadilan, perhatian, dan keberanian menegakkan tata gereja.

Jose

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *