Pnt. Joune Ganda Pimpin Ibadah Minggi di GMIM Kyrios Kawiley, Wilatah Minawerot

MINUT KOMENTAR-Pnt. Dr. Joune Ganda. SE. MAP. MM. M. Si, menjadi pemimpin ibdaah di GMIM Kyrios Kawiley, Wilayah Minawerot, Minggu (13/08/2025).

Melalu pembacaan Filipi 2:1- 11, Pnt. Joune menjelaskan mengenai
dinamika kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Tantangan terbesar seringkali bukan pada perbedaan pendapat, melainkan pada ego individu yang sulit dikendalikan.

“Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi pasal 2 ayat 1-11 kembali menjadi sebagai panduan praktis untuk membangun komunitas yang solid, penuh kasih, dan berpusat pada Kristus. Perikop ini membuka dengan panggilan mendesak bagi setiap yang percaya untuk menjaga kesatuan roh,”ungkap Pnt. Joune.

Lewat ajaran ini, Paulus menekankan bahwa jika mereka telah merasakan penghiburan dalam Kristus, kekuatan kasih, dan persekutuan Roh Kudus, maka respons alami mereka haruslah hidup dalam satu pikiran dan satu kasih.

Kunci dari kesatuan ini terletak pada sikap mental yang menolak kecongkakan dan kepentingan diri sendiri, serta secara aktif memandang orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Ini adalah fondasi etika sosial Kristen: melayani, bukan dilayani.

Namun, Paulus tidak hanya memberikan instruksi moral, ia memberikan teladan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan, yaitu Yesus Kristus.

Sebagaimana disebut Dalam “Himne Kristus,” Paulus menggambarkan bagaimana Yesus, yang hakikatnya adalah Allah Bapa, tidak mempertahankan status kemuliaan-Nya dengan keras. Sebaliknya, Ia melakukan tindakan radikal yang dikenal sebagai kenosis atau pengosongan diri.

“Yesus rela turun dari takhta kemuliaan ilahi, mengambil rupa hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Puncak dari kerendahan hati-Nya adalah ketaatan total hingga mati, bahkan mati di kayu salib—simbol penghinaan dan penderitaan terberat pada masa itu. Tindakan ini menunjukkan bahwa jalan menuju kemuliaan sejati dalam Kerajaan Allah bukanlah melalui dominasi, kekuasaan, atau pamrih, melainkan melalui pelayanan dan pengorbanan tanpa batas,”jelasnya.

Sebagai respons atas ketaatan dan kerendahan hati Kristus yang luar biasa tersebut, Allah Bapa meninggikan-Nya kembali. Yesus diberikan nama yang melebihi segala nama, sehingga setiap makhluk di surga, di bumi, dan di bawah bumi akan bertekuk lutut dan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, demi kemuliaan Allah Bapa.

Bagi jemaat masa kini, pesan Filipi 2:1-11 adalah undangan untuk merevolusi cara pandang terhadap kepemimpinan dan hubungan sesama. Jika Kristus yang adalah Tuhan saja rela menjadi hamba, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa terlalu tinggi untuk melayani, terlalu sibuk untuk peduli, atau terlalu penting untuk meminta maaf. Dengan meneladani pola pikir Kristus, jemaat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang damai, di mana setiap anggota saling menopang, menghargai, dan mengutamakan kesejahteraan bersama di atas ambisi pribadi.

“Melalui refleksi ini, diharapkan setiap yang percaya tidak hanya mengakui Yesus sebagai Tuhan secara lisan, tetapi juga mewujudkan kerajaan-Nya di bumi melalui gaya hidup yang rendah hati, penuh kasih, dan siap berkorban bagi sesama. Saya perlu ingatkan bahwa dalam pelayanan maupun bermasyarakat, kita semua harus sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan,”tutup Joune Ganda yang juga Bupati Minahasa Utara ini.
Jose

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *