MANADO KOMENTAR-Dibalik angka-angka statistik dan deretan program strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara tahun 2025, tersimpan sebuah narasi pribadi yang jarang terungkap.
Keteguhan hati seorang pemimpin yang terusir oleh keraguan, namun dipandu oleh cinta mendalam pada tanah kelahirannya. Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK), dengan tenang menjawab setiap gelombang kritik dan bahkan cemoohan publik dengan satu prinsip sederhana. “Saya tidak bekerja untuk pujian, saya bekerja karena darah saya mengalir dari tanah ini.”
Publikasi capaian visi-misi Pemprov Sulut sepanjang 2025 bukan sekadar laporan administratif. Bagi YSK, ini adalah bukti nyata bahwa visinya bukanlah janji kosong di atas kertas, melainkan ikhtiar tulus seorang anak yang rindu memuliakan tempat di mana ibunya dilahirkan, Desa Kakas, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Sepanjang tahun 2025, YSK menghadapi dinamika politik dan sosial yang tidak mudah. Banyak suara sumbang, hujatan, hingga ejekan yang ditujukan kepadanya di media sosial maupun ruang publik. Namun, pria yang akrab disapa YSK ini memilih untuk tidak terpancing emosi. Ia tetap tenang, fokus, dan bekerja dalam sunyi.
“Biarlah mereka berbicara. Saya tahu siapa saya. Saya tahu dari mana saya berasal. Saya lahir dari rahim seorang ibu asli Sulawesi Utara, dari Desa Kakas. Cinta saya pada tanah ini bukan retorika politik, tapi naluri keibuan yang diwariskan kepada saya,” ungkap YSK dalam sebuah kesempatan tertutup yang kini menjadi inspirasi bagi jajarannya.
Baginya, setiap cibiran hanyalah ujian kesabaran. Respons terbaik terhadap hujatan bukanlah debat kusir, melainkan hasil kerja nyata yang bisa dirasakan rakyat.
Ketenangan YSK berbuah manis. Tahun 2025 mencatat berbagai terobosan yang membuktikan bahwa pemerintahan ini serius membangun fondasi jangka panjang, bukan sekadar proyek pencitraan,
Meski Survei Penilaian Integritas (SPI) masih di angka 68,08 (kategori rentan), YSK tidak menutup mata. Ia justru menjadikan angka tersebut sebagai cambuk. Melalui penerapan kurikulum antikorupsi di sekolah-sekolah dan sosialisasi masif di rumah sakit, YSK menanamkan nilai kejujuran sejak dini. “Perubahan budaya butuh waktu. Kami sedang menyemai benih integritas agar generasi mendatang tidak mewarisi korupsi,” tegasnya.
Sementara daerah lain berlomba membangun jembatan beton, YSK memilih membangun “jembatan masa depan” melalui pendidikan. Pembangunan SMA Taruna Nusantara di Noongan, Minahasa dan Sekolah Rakyat di Manado serta Tampusu, adalah wujud kecintaannya pada SDM Sulut. Ini adalah investasi agar anak-anak Kakas, anak-anak Sulut, bisa bersaing di level global.
Penghargaan National Governance Award 2026 kategori Outstanding Province in Life Expectancy Value adalah validasi objektif. Angka harapan hidup warga Sulut naik. Artinya, program kesehatan dan akses layanan publik yang didorong YSK benar-benar menyentuh nyawa manusia.
Dibalik keputusan strategis tersebut, ada motivasi emosional yang kuat. YSK sering mengenang sosok ibunya, perempuan kuat dari Desa Kakas yang mengajarkan arti ketulusan. Baginya, membangun Sulawesi Utara adalah cara ia “memeluk” kembali ibunya dan leluhurnya melalui pelayanan.
“Ketika saya menandatangani anggaran untuk pendidikan atau kesehatan, saya tidak melihat angka rupiah. Saya melihat wajah-wajah anak di Kakas, di Minahasa, di seluruh Sulut, yang berhak mendapatkan masa depan lebih baik. Itulah mengapa saya tidak pernah lelah, meski banyak yang membuli,” kenangnya.
Tantangan memang masih ada. Reformasi birokrasi perlu dipercepat, dan pengawasan harus diperketat. Namun, dengan kepemimpinan YSK yang tenang, visioner, dan berakar pada nilai-nilai lokal, Sulawesi Utara memiliki kompas yang jelas.
Tahun 2025 telah membuktikan, Visi misi YSK bukan janji. Ia adalah kerja keras, air mata, dan doa seorang putra daerah yang mencintai tanahnya lebih dari dirinya sendiri. Dan bagi YSK, kepuasan tertinggi bukan saat mendapat tepuk tangan, melainkan saat melihat senyum warga Sulut yang hidupnya semakin sejahtera.
Jose







