MANADO KOMENTAR-Spirit kompetisi yang tinggi dan jiwa sportivitas yang luhur mewarnai pertandingan bulutangkis dalam rangka Hari Persatuan Kaum Bapa (HAPSA) Sinode GMIM 2026.
Dari 28 tim yang bertarung, Wilayah Mapanget Satu tampil mencuri perhatian dengan permainan agresif dan solid, hingga berhasil melaju ke babak final dan membawa pulang medali perak setelah pertarungan sengit melawan Lembean Kora-Kora.
Kehadiran Tommy Dotulong menjadi sorotan utama, karena selain sebagai pemain kunci, Tommy juga merangkap sebagai Manajer Tim, sebuah peran ganda yang ia jalankan dengan brilian.
Dibawah kepemimpinannya, Mapanget Satu yang beranggotakan pemain handal seperti Glen Saumana, Henky Ruru, Nolly Kinda, Rino Dotulong, Yohanis Mangundap, Pdt. Teddy Kansil dan Ricky dotulong, tampil sebagai mesin perang yang sulit dihentikan.
Dibabak penyisihan, Mapanget Satu menunjukkan taringnya dengan menembus 4 besar (semi-final), bergabung bersama tim-tim kuat lainnya seperti Kawangkoan A, Kawangkoan, dan Lembean Kora-Kora. Rekor tiga kali juara sebelumnya menjadi beban sekaligus motivasi bagi para pemain untuk mempertahankan tradisi kemenangan.
Laga semi-final mempertemukan dua raksasa yakni, Mapanget Satu vs Kawangkoan A. Pertandingan berjalan sangat ketat, menguras tenaga, dan penuh taktik. Untuk memastikan kemenangan, Tommy Dotulong menyusun strategi menurunkan pasangan terbaik, Henky-Tommy, Rino-Glen, dan Nolly-Yohanis.
Dengan ketenangan dan kekompakan luar biasa, Mapanget Satu akhirnya menang tipis dengan skor agregat 2-1, mengamankan tiket menuju laga puncak.
Pada laga final melawan Lembean Kora-Kora, kejutan terjadi. Tommy Dotulong, yang biasanya menjadi game-changer di lapangan, memilih untuk tidak turun sebagai pemain. Ia mempercayakan tongkat estafet perjuangan kepada rekan-rekannya sambil memimpin dari sisi lapangan sebagai manajer. Keputusan ini diambil karena keyakinan tinggi terhadap kedalaman skuad Mapanget Satu.
Prediksi kemenangan hampir saja menjadi kenyataan. Dipartai pertama, pasangan Rino Dotulong dan Glen Saumana berhasil mengalahkan lawan mereka, memberikan keunggulan awal 1-0 bagi Mapanget Satu.
Namun, drama berubah di partai kedua. Pasangan Nolly Kinda dan Yohanis Mangundap sebenarnya sudah berada di ambang kemenangan dengan kedudukan poin 20-18 (match point). Namun, kelelahan fisik akibat rangkaian pertandingan yang intens membuat konsentrasi sedikit menurun. Lawan dari Lembean Kora-Kora memanfaatkan momen ini untuk membalikkan keadaan dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Ketegangan memuncak di partai penentuan (rubber game). Pasangan Henky Ruru dan Tedy (menggantikan posisi strategis) turun dengan sisa tenaga yang ada. Meski berjuang habis-habisan, mereka harus mengakui ketangguhan pasangan Lembean Kora-Kora yang lebih segar secara fisik. Mapanget Satu pun harus rela puas di posisi kedua dengan medali perak.
Meski gagal merebut gelar juara, suasana di kubu Mapanget Satu tetap penuh sukacita dan kebanggaan. Tommy Dotulong, yang usai pertandingan langsung memeluk para pemainnya, menegaskan bahwa esensi dari HAPSA bukan sekadar piala, melainkan pelayanan dan persaudaraan.
“Saya sangat bangga dengan teman-teman. Kami sudah memberikan yang terbaik. Ini bukan soal juara atau kalah, tapi bagaimana kita mampu melayani melalui olahraga. Kita harus mengakui kemampuan lawan hari ini. Yang pasti, saya puas dengan upaya maksimal dari seluruh tim Mapanget Satu,” ujar Tommy dengan senyum lebar.
Sikap legawa Tommy dan tim Mapanget Satu menjadi teladan indah dalam HAPSA Sinode GMIM 2026. Mereka membuktikan bahwa di atas lapangan bulutangkis, keringat dan perjuangan adalah bentuk ibadah, dan hasil akhir adalah bonus dari proses yang dijalani dengan hati yang tulus.
Jose













